Senin, 06 Februari 2017

Assegaf

“ krek,” decitan pintu tua pada temaram lampu remang remang. langkah sepatu pantofel berbisik pada lapis lapis salju Januari . “pria tanpa wajah itu sudah pergi lagi dan Matahari kembali tidak muncul hari ini".gumam seorang bocah tujuh tahun itu. Diambilnya kacamatanya dari bawah kolong yang gelap.  Dirapikannya rambut yang hanya sedikit itu. Ia bergegas menuju suara yang memanggilnya di fajar buta. “kenapa tidak ada satupun orang disini ? , hemm baiklah, ayolah malaikat kita berjamaah “ lirihnya

Bocahnya itu mengedahkan tangannya, pada Kristal Kristal salju Januari. Tiba tiba, tangannya serasa kasar buliran lembut itu berubah menjadi hempasan debu abu abu, dan darah segar . Seketika bocah itu tersenyum, nafasnya terhembus dari diafrgama yang paling dalam. 

Bocah itu bernama Assegaf
To Be Continued

Jumat, 03 Februari 2017

Labirin


Jendela bergorden buliran hujan ,rupanya semakin berkabut, menghapus pandangan dalam remang bias langit magenta, tiba tiba kudengar suara yang mencoba berdialog  dan perlahan berkata 

“Menjadi tua itu lupa !, sebagian kehidupan membeku renggut ruh yang pernah jaya ,menjadi tua itu Lemah ! hidup dalam getir gemetar genggam sebuah gelas. Menjadi tua itu bosan ! ,perbedaan kisah nampaknya hanya terjadi pada kotak sandiwara didepan sofa rumahmu. Menjadi tua itu dilupakan ! beberapa raut kesal nampaknya hadapi Sengau bias terowongan telinga  , untunglah ribuan ekspresi itu di pandanginya dengan lensa tua berpixel luar biasa kecil , belum lagi Gumamnya Hari demi hari adalah detik yang sama untuknya namun tidak pada labirin labirin ingatan. Sungguh Liku likunya semakin terhapus, tiydak ada tanah yang terkoyak karena jejak,  tidak ada para pencari jalan, bahkan  penyibak rahasia , tidak ada… labirin yang semakin tua, terhapus dalam diam pada setiap malam.’’

Desir angin menggelayup perasaan ku yg mengelompong, degup jantung berpacu semakin kuat dan cepat hingga hentikan kata diujung bibir, aaah!, kenapa ini , pitasuaraku seperti tercabut, pundakku seperti dicengkram, dan kemudian suara ruh itu pun berlanjut , semakin lirih rintih

“Sengaja tidak kubawa semua ingatannya akan kisah menakjubkan, tidaaaaaak…  agar kelak ia bisa bergumam panjang lebar bercerita atas ingatan yang tertinggal , agar ia masih punya kisah heroik , hanya untuk sekedar berkomunikasi denganmu, tentu bukan pada telinga beku . Percayalah,   Bukan efek analgesik obat, bukan lumatnya makanan, bahkan bukan rumah dengan kepala kepala yang putih itu, bukan , dibalik kursi rodanya ia menunggumu menjelajah, berpetualang diliku liku labirinnya yang luar biasa. Ia ingin meninggalkan ingatan yang tertinggal di ingatanmu, hanya itu”  

jendela berjalan ini akhirnya berhenti, gordennya pun sudah mereda. Didepan rumah dengan jendela tua bertralis besi nampak puluhan kepala putih dengan garis ekspresi yang sama. Dengan jinjingan makanan  lumat yang cukup untuk satu sebulan,  pandanganku menoleh kebelakang  ,kutatapi  dengan jelas seseorang dengan garis ekspresi yang sama, beserta labirin yang hampir akan terhapus , dan ruh yang pernah berdialog. Ruh yang pernah jaya...

disamping seorang nenek,  2 Februari 2017
Ranidwira

Rabu, 04 November 2015

ada bengkok dalam lurus

atmosfer sedang berada di rona abu abu
langit berduka , ia terlau rindu padamu Hujan.....

Ada yang menarik dari sepenggal  kalimat milik Syaikh Syafuirrahman dalam sirah nabawiyah ,ia mengatakan  “Hijrah ini bukan sekedar mengabaikan kepentingan, mengorbankan harta benda dan menyelamatkan diri semata, setelah hak mereka banyak yang dirampas. Tetapi bisa saja mereka akan mendapatkan kebinasaan pada permulaan hijrah itu atau pada akhirnya. Hijrah ini juga menggambarkan sebuah perjalanan kemasa depan yang serba mengambang, tidak diketahui duka lara apa yang akan menyusul dikemuadian hari” 


Teringat sebuah kisah seorang pemuda , dalam kisah nya disebutkan bahwa ia sudah berhari hari terhuyung,terombang ambing di
hamparan samudra dengan sampan reot dan lapuk. hari demi hari ia habiskan ditempat itu, suatu ketika pemuda itu memutuskan untuk memulai membuat garis start semu . ia mulai mengayuh sampan dengan kedua tangannya.  Ia kayuh sampan itu sekuat tenaga, hingga butiran  keringat menggelinding dengan deras melembabkan pakaiannya. Otot otot dan urat berlomba keluar dari kulitnya yang hitam legam, mukanya memerah. Ia berusaha mengayuh sampan pada jalan yang lurus, ya iya yakini lurus.   3 hari 3 malam ia kayuh terus sampan itu. Pemuda masih meyakin ia menempuh di arah yang lurus , segunung angkuh ia ejek sampan yang masih menetap dalam diam, tatapan heran serasa dipundak kanan kirinya.
seminggu berlalu ,pemuda itu masih saja mengayuh ,otot ototnya mulai lemas, serasa ia sudah kehabisan energi. si pemuda mulai khawatir akan persediaan makanannya hampir habis , namun  belum menemukan petunjuk apapun. Ia masih meyakini dalam kelurusan dan perpindahannya. gelombang  yang menyaksikan pun iba padanya.  Gelombang berkata kepada pemuda itu “ hei pemuda apa yang sedang kau lakukan , kau terus mengyuh sampan itu hingga kulit mu hitam legam dan semakin legam ! ‘’
‘’ aku sedang berjalan kearah yang lurus gelombang, aku sedang berjalan menuju rumah ku , sebuah daratan yang indah, kau harus melihatnya juga“ lalu gelombang berkata lagi “ yakinkah pemuda , arah lurus yang kau lintasi ?” ya aku sangat yakin, aku tidak pernah membelokan sampan ku “. Gelombang menghembus nafas sejenak “ lalu berkata lagi  hei pemuda, sadarkah engkau akan keberadaan ku disamudra ini?  Ya tentu aku mengetahuinya kau membantu ku bergerak, kau membuat samudra ini bergerak bukan.... daaan...... lalu pemuda itu terdiam sejenak.  Kenapa kau tiba tiba terdiam pemuda “ saut gelombang. pemuda masih saja terdiam, terdiam  lalu seketika ia tertunduk lesu, dengkulnya menubruk papan sampan dikeheningan ia menangis sejadi jadinya, hingga volume samudra bertambah oleh air matanya.





Selasa, 20 Oktober 2015

Sosok Disana

“Diantara samudra cinta yang  luas dan dalam didunia adalah kasih saayang seorang ibu”



untuk Sosok disana, pemilik samudra cinta

aku tahu, ada mata yang sedang berkaca kaca
aku tahu , ada hati sedang yang pilu
aku tahu, ada lisan yang ingin bercerita lebih
namun , kekhawatiran itu hanya dapat menghentikannya
 diujung bibirmu .......
dan lebih memilih melampiaskan dalam doa doa mulia untuk anak anakmu
saat ini ingin rasanya memeluk erat tubuhmu
mengukir tawamu sejenak dan
berteleportasi sesaat
untuk sekedar makan semangkuk mi berdua dengan mu ditengah malam


Dibalik pintu doraemon,
Ranidwira




Rabu, 31 Desember 2014

Perca Dunia


Kemarin kemarin ku tenggelamkan hati pada perca perca dunia
buyarkan pikiran pada gemerlap materi dan kompetisi
bangga menjadi primadona fana
tanpa sadar haqiki dan fitrah manusia
tanpa bekal EKSKLUSIF untuk bertemu dengan Nya

Hati seperti berongga

Hilir mudik angin lalui dengan mudah
Rapuh 
Riuh
Melompong
kemana saja fitrah diri ini pergi?
sia sia berkeliling dalam medan magnet semu

Padahal titik itu ada ditengah...



Di tempat dan waktu yang tidak diketahui
Ranidwira






Jumat, 27 Juni 2014

Masih Magenta



baru saja main main dengan langit sebelah
jatuh lebih lembut dari tumpukan jerami
rupanya sudah biru,...

aku pulang
bias gradasi bukan lukisan
ada di menu 'colour' untuk mengedit gradasi warna
magenta menyambutku
iya langitku masih magenta
yang aku ingat sebelum ini adalah merah
bara yang 'unforgottable'
magenta sediakan secangkir air beserta kafeinnya
tertidur di sofa hijau penuh angan
tunggu...
ini belum biru

sudah aah :) rahasia langit terlalu panjang untuk dibeberkan.

Rans








Kamis, 26 Juni 2014

Sun face the sun




Helianthus annuus L.


they stand up right as optimist earth sun.
face the sun in one direction
tegaklah,
yakinlah,
bangkitlah
Allah saja percaya kamu mampu

Ranidwira